a trip -even just a small trip that only spent an hour- is worth more than billions. it gives you some time to thinking. about anything.
there’s a time when you can look around. around people behind you. around people next to you. around people in front of you. around you. and you.

a trip -even just a small trip that only spent an hour- is worth more than billions. it gives you some time to thinking. about anything.

there’s a time when you can look around. around people behind you. around people next to you. around people in front of you. around you. and you.

The Anti-aging Cream is Sucks, i Need Anti-lacking Imagination Magical Cream

My 22 years old is exactly 2 months ago. It’s kinda pathetic. Being old is about 70% pathetic. The more i realize, because being old means you’re lacking of imagination.

Back then, saat usiaku masih kanak-kanak, cerita pendek pertama yang kutulis adalah saat aku berada di tahun kedua Sekolah Dasar. Tidak, bukan cerita tentang imajinasi bagaimana jika bumi diserang segerombolan makhluk aneh yang bentuknya seperti terong hijau - aku menulis tentang hidupku dan orang-orang disekitarku. Aku menulis tentang teman-temanku. Menulis tentang sekolahku. Menggunakan nama teman-temanku dalam tokoh fiksiku. Aku merombak kenyataan. Membuatnya menjadi sesuai dengan imajinasi yang anak berusia delapan tahun pikirkan.

Pada saat itu, aku bermimpi sekolah di Hogwarts. Ratusan kali berharap aku sebenarnya penyihir yang terjebak di dunia muggle. Aku sering membenci kakak perempuanku yang menyebalkan, namun juga setengah mati selalu meniru dan mengikutinya. Berharap Ayah Ibuku kaya raya dan bisa membelikanku rumah dengan kolam renang. Dalam sebuah kehidupan kecil yang sederhana, setelah aku dewasa aku menyadari kebahagiaan tidak datang dari kolam renang pribadi. Pada ulang tahunku yang ketujuh Ayah Ibuku memberiku kado sebuag jaket. Berwarna ungu muda dengan gambar Tweetty. Setelah melonjak kegirangan dan lupa pada mimpi kolam renang pribadi, setahun kemudian kadonya adalah kabar Ibuku hamil. Aku akan punya adik, aku akan segera pensiun menjadi anak bungsu yang sok jagoan.

Aku terus menulis. Aku terus bermimpi. Aku terus merombak kenyataan dengan tulisanku. Aku masih ingin menjadi penyihir, meskipun perlahan aku mulai lupa pada mimpi kolam renang pribadi. I’m quiet famous, teman-teman suka membaca ceritaku. Aku menghabiskan tiga hingga lima buku tulis bergaris tiga puluh delapan lembar setiap tahun, demi menulis cerita fiksi. Ibuku tidak pernah tahu aku mulai memberi bumbu kisah percintaan remaja seperti yang kulihat di telenovela dan sinetron.

Aku menyembunyikan buku tulis ceritaku. Khawatir kena razia guru. Teman-teman membantuku. Tentu saja, mereka tidak ingin kehilangan sumber hiburan. Tulisan tanganku semakin buruk. Semakin banyak diprotes. Namun aku terus berimajinasi. Bahkan ketika pup dan antri mandi. Aku menyusun ide untuk bahan tulisan selanjutnya. Sebelum tidur aku sering memikirkan menjadi adik Shinichi. Aku menulis cerita tentang Hogwarts. Tentang kota Beika. Tentang anak SD Kelas 5 yang terbang dengan baling-baling bambu. Tentang berangkat sekolah bersama Maruko-chan. Membayangkan jika cerita dalam Serial cantik benar-benar terjadi padaku.

Pada saat aku berhenti memikirkan cara menghitung integral dan proses titrasi yang menyebalkan, aku perlahan mulai berhenti menulis. Aku berhenti menulis imajinasi. Tidak, mungkin aku berhenti berimajinasi.

Told ya, being old is pathetic. My life is somehow just too real. Aku merindukan pikiran kanak-kanak bodoh yang memasang tensoplast di pipi bersih tanpa luka karena menganggap itu keren.

you can call it diary no it's not oh whatever